Nama : Siska Wahyu Sagita
Kelas :
4C
NPM : 16410103
Ulasan Cerpen Gadis Kecil Beralis
Tebal Bermata Cemerlang
Cerpen ini dimulai ada
seoran lelaki yang hendak pergi ke rumah temannya dengan naik kereta api. Lewat
jendela kereta api, dia melihat ada seorang gadis cantik mungil beralis
tebal dan bermata cemerlang. Wania itu
memandanginya tanpa berkedip. Lelaki itu hanya melihatnya balik lewat pintu
jendela kereta api. Lelaki itu mengira kalau dia sedang mencari seseorang atau
barangkali sedang menjemput seseorang. Wanita itu sendirian, matanya hanya
tertuju pada lelaki yang ada di dalam kereta api. Lelaki itu berharap wanita
itu tersenyum kepadanya, pasti gadis itu akan memiliki senyum yang manis dan
melelehkan hati karena bibir mungilnya. Tapi sayang, itu hanya ada dalam imajinasinya saja.
Bayangan-bayangan gadis itu terus mengikuti sampai kereta api yang
ditumpanginya berjalana jauh bahkan terbawa sampai tidur. Terfikir olehnya
kalau gadis itu bukanlah gelandangan atau pengemis, karena dari fisiknya dia terlihat orang yang
punya, bajunya terlihat rapi dan bersih. Gadis itu masih menyimpan misteri,
tatapan wajah gadis manis itu tak mengekspresikan apa-apa.
Sesampainya di stasiun Kota J, dia menaiki taksi yang akan
membawanya ke rumah kenalannya. Temannya menjanjikan akan mengenalkannya pada
adiknya, yang katanya mempunyai wajah yang cantik seperti bintang flim kesukaan
lelaki itu. Sahlan, itu adalah nama temank, yang akan kukunjungi kali ini. Rumahnya
terletak di kampung yang padat sekali penduduk, rumahnya pun sederhana seperti
rumah-rumah lainnya. Sesampainya di rumah Sahlan, aku dipersilakan masuk
olehnya. Dia membawakan lelaki itu minuman, kue-kue, dan rokok. Sesekali lelaki
itu merasa canggung, tapi Sahlan begitu senang sampai dia keluar amsuk
membawakan sesuatu, yang terakhir dia membawakan peralatan mandi, Sahlan
menyuruh lelaki itu mandi. Rumah Sahlan begitu sepi, katanya hanya ada dia dan
adiknya yang menjaga rumah. Seketika itu hati lelaki itu lega dan senang bukan
main, ingin rasanya dia bertanya dimana adiknya, namun ia malu juga.
Di kamar mandi, dia mendengar suara seseorang
yang sedang bernyanyi, pikirnya itu pasti suara adiknya, dia semakin tak sabar
ingin bertemu adiknya Sahlan. Suaranya benar-benar merdu, pasti orangnya
cantik. Sesudahnya mandi lelaki itu masuk ke kamar yang sudah disediakan
temannya. Kamarnya bersih dan tertata rapi, dia berfikir mungkin ini kamar
orang tuannya yang sedang mudik. Dari luar Sahlan sudah mengajaknya makan, dia
langsung keluar ke meja makan dan di sana dia melihat seorang gadis yang dia
temui di stasiun tadi. Gadis itu beralis tebal, bermata cemerlang, dan
senyumnya manis sekali. Dia hanya menebak-nebak mungkin saja yang di stasiun
itu kakaknya, tapi Sahlan pernah berkata kepadanya kalau Sahlan mempunyai adik
perempuan, mungkin ini adiknya, fikir lelaki itu tidak mungkin kalau perempuan
ini adalah ibu dari gadis cilik itu. Karena terlalu muda sebagai ibu.
Perempuan itu memberikan
isyarat dengan matanya, mempersilahkan ke meja makan untuk segera sarapan. Dia memberikan
isyarat dengan senyuman yang sangat manis sekali. Lalaki itu pun guugup, di
meja makan Sahlan sudah duduk dengan membaca koran, untung Sahlan tidak
melihanya. Lelaki itu seolah-olah baiasa saja seperti tak terjadi apapun. Perempuan
itu mengambil posisi duduk di samping Sahlan, diapun langsung menutup korannya
dan langsung makan. Sahlan memperkenalkan perempuan itu padanya, namanya
Shakila. Namun seketika itu hainya terasa tertusuk ketika dia mengatakan kalau
perempuan itu adalah istrinya, “ Adikku. Adik ketemuu gede, ha-ha. Istriku tercinta.”
Hatinya terasa sesak, ternyata dia hanya dibohongi saja oleh temannya. Perempuan
itu mengulurkan tangannya, dan akupun membalasnya. Tanganku gemetaran entah
bersumber dari mana. Seketika itu dia teringat gadis kecil yang ada di stasiun.
Setelah berkenalan mereka melanjutkan makan, sambil sesekali Sahlan bercerita
awal mula dia bertemu dengan istrinya. Aku melihat istrinya sesekali, dia hanya
ikut tersenyum tanpan berbicara apapun, apa sebenarnya istri Sahlan itu bisu. Tapi
dia masih tak percaya, tadi dia mendengar ada suara perempuan yang nyanyi, dia
mendengar betul dan jelas, kalau bukan perempuan itu yang bernyanyi lantas
siapa lagi.
Setelah makan, Sahlan
masih terus bercerita, istrinya membereskan meja makan, dan lagi-lagi dengan
diam. Konsentrasinya tak jelas entah kemana, dia amsih ingat betul dengan gadis
kecil yang sedang menatapanya di stasiun dan perempuan yang sedang menyanyikan
lagu india. Lamunannya buyar ketika Sahlan menepuk pundaknya, seolah-olah Sahlan
mengerti apa yang sedang dia fikirkan. Dia bercerita lagi kalau istrinya
benar-benar istimewa. Dia berbicara tidak menggunakan mulut, melinkan dengan
senyuman, kadang-kadang juga lewat nyanyian. Sejak Sahlan berkenalan dengan
istrinya, dia tak pernah mendengar istrrinya berbicara dengan mulut. Dulu Sahlan
mengira kalau istrinya bisu, tapi Sahlan pun tetap tak perduli, dia tetap
menikahi istrinya karena dia sudah terlanjur cinta senyum dan mata indahnya. Dia
bercerita lagi kalau perkenalannya dengan istrinya begitu aneh, Sahlan bertemu
di stasiun S. dai jendela kereta, dia melihat gadis kecil yang berdiri di dekat
gerbong kerretaku, dia terus menatap Sahlan tanpa berkedip. Dan istrinya membalas
senyumannya dengan senyuman manisnya. Dan beberapa waktu kemudian, ketika Sahlan
pulang ke kampung M, ibunya
memperkenalkannya dengan gadis yang ditemuinya di stasiun S. ibuunya langsung
menawari Sahlan untuk menikahi gadis itu, tanpa pikir panjang lagi, Sahlan pun
mau menikahi gadis itu.
Akhir dari cerpen ini
masih membingungkan, karena gadis itu muncul secara tiba-tiba di hadapan lalaki
muda itu. Penyebabnya kenapa istri Sahlan dan gadis kecil yang di temui di
stasiun benar-benar sama. Sama-sama memilki alis yang tebal dan mata yang
cemerlang serta senyuman yang manis. Tapi bedanya ketika gadis itu pertama kali
betemu Sahlan dia membalas senyumnya, tapi ketika bertemu lelaki muda gadis itu
tak membalas senyumnya. Dari sini bisa diambil kesimpulan, bahwasanya jodoh mau
bagaimanapun caranya dan seperti apapun jalannya Tuhan pasti akan menyatukan
kembali dengan caran-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar