Senin, 02 April 2018

kajian prosa fiksi


Nama   : Siska Wahyu Sagita
 Kelas : 4C
NPM    : 16410103
Ulasan Cerpen Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang
Cerpen ini dimulai ada seoran lelaki yang hendak pergi ke rumah temannya dengan naik kereta api. Lewat jendela kereta api,  dia melihat ada seorang gadis cantik mungil beralis tebal dan bermata cemerlang.  Wania itu memandanginya tanpa berkedip. Lelaki itu hanya melihatnya balik lewat pintu jendela kereta api. Lelaki itu mengira kalau dia sedang mencari seseorang atau barangkali sedang menjemput seseorang. Wanita itu sendirian, matanya hanya tertuju pada lelaki yang ada di dalam kereta api. Lelaki itu berharap wanita itu tersenyum kepadanya, pasti gadis itu akan memiliki senyum yang manis dan melelehkan hati karena bibir mungilnya. Tapi sayang,  itu hanya ada dalam imajinasinya saja. Bayangan-bayangan gadis itu terus mengikuti sampai kereta api yang ditumpanginya berjalana jauh bahkan terbawa sampai tidur. Terfikir olehnya kalau gadis itu bukanlah gelandangan atau pengemis,  karena dari fisiknya dia terlihat orang yang punya, bajunya terlihat rapi dan bersih. Gadis itu masih menyimpan misteri, tatapan wajah gadis manis itu tak mengekspresikan apa-apa.
Sesampainya di stasiun Kota J,  dia menaiki taksi yang akan membawanya ke rumah kenalannya. Temannya menjanjikan akan mengenalkannya pada adiknya, yang katanya mempunyai wajah yang cantik seperti bintang flim kesukaan lelaki itu. Sahlan, itu adalah nama temank, yang akan kukunjungi kali ini. Rumahnya terletak di kampung yang padat sekali penduduk, rumahnya pun sederhana seperti rumah-rumah lainnya. Sesampainya di rumah Sahlan, aku dipersilakan masuk olehnya. Dia membawakan lelaki itu minuman, kue-kue, dan rokok. Sesekali lelaki itu merasa canggung, tapi Sahlan begitu senang sampai dia keluar amsuk membawakan sesuatu, yang terakhir dia membawakan peralatan mandi, Sahlan menyuruh lelaki itu mandi. Rumah Sahlan begitu sepi, katanya hanya ada dia dan adiknya yang menjaga rumah. Seketika itu hati lelaki itu lega dan senang bukan main, ingin rasanya dia bertanya dimana adiknya, namun ia malu juga.
 Di kamar mandi, dia mendengar suara seseorang yang sedang bernyanyi, pikirnya itu pasti suara adiknya, dia semakin tak sabar ingin bertemu adiknya Sahlan. Suaranya benar-benar merdu, pasti orangnya cantik. Sesudahnya mandi lelaki itu masuk ke kamar yang sudah disediakan temannya. Kamarnya bersih dan tertata rapi, dia berfikir mungkin ini kamar orang tuannya yang sedang mudik. Dari luar Sahlan sudah mengajaknya makan, dia langsung keluar ke meja makan dan di sana dia melihat seorang gadis yang dia temui di stasiun tadi. Gadis itu beralis tebal, bermata cemerlang, dan senyumnya manis sekali. Dia hanya menebak-nebak mungkin saja yang di stasiun itu kakaknya, tapi Sahlan pernah berkata kepadanya kalau Sahlan mempunyai adik perempuan, mungkin ini adiknya, fikir lelaki itu tidak mungkin kalau perempuan ini adalah ibu dari gadis cilik itu. Karena terlalu muda sebagai ibu.
Perempuan itu memberikan isyarat dengan matanya, mempersilahkan ke meja makan untuk segera sarapan. Dia memberikan isyarat dengan senyuman yang sangat manis sekali. Lalaki itu pun guugup, di meja makan Sahlan sudah duduk dengan membaca koran, untung Sahlan tidak melihanya. Lelaki itu seolah-olah baiasa saja seperti tak terjadi apapun. Perempuan itu mengambil posisi duduk di samping Sahlan, diapun langsung menutup korannya dan langsung makan. Sahlan memperkenalkan perempuan itu padanya, namanya Shakila. Namun seketika itu hainya terasa tertusuk ketika dia mengatakan kalau perempuan itu adalah istrinya, “ Adikku. Adik ketemuu gede, ha-ha. Istriku tercinta.” Hatinya terasa sesak, ternyata dia hanya dibohongi saja oleh temannya. Perempuan itu mengulurkan tangannya, dan akupun membalasnya. Tanganku gemetaran entah bersumber dari mana. Seketika itu dia teringat gadis kecil yang ada di stasiun. Setelah berkenalan mereka melanjutkan makan, sambil sesekali Sahlan bercerita awal mula dia bertemu dengan istrinya. Aku melihat istrinya sesekali, dia hanya ikut tersenyum tanpan berbicara apapun, apa sebenarnya istri Sahlan itu bisu. Tapi dia masih tak percaya, tadi dia mendengar ada suara perempuan yang nyanyi, dia mendengar betul dan jelas, kalau bukan perempuan itu yang bernyanyi lantas siapa lagi.
Setelah makan, Sahlan masih terus bercerita, istrinya membereskan meja makan, dan lagi-lagi dengan diam. Konsentrasinya tak jelas entah kemana, dia amsih ingat betul dengan gadis kecil yang sedang menatapanya di stasiun dan perempuan yang sedang menyanyikan lagu india. Lamunannya buyar ketika Sahlan menepuk pundaknya, seolah-olah Sahlan mengerti apa yang sedang dia fikirkan. Dia bercerita lagi kalau istrinya benar-benar istimewa. Dia berbicara tidak menggunakan mulut, melinkan dengan senyuman, kadang-kadang juga lewat nyanyian. Sejak Sahlan berkenalan dengan istrinya, dia tak pernah mendengar istrrinya berbicara dengan mulut. Dulu Sahlan mengira kalau istrinya bisu, tapi Sahlan pun tetap tak perduli, dia tetap menikahi istrinya karena dia sudah terlanjur cinta senyum dan mata indahnya. Dia bercerita lagi kalau perkenalannya dengan istrinya begitu aneh, Sahlan bertemu di stasiun S. dai jendela kereta, dia melihat gadis kecil yang berdiri di dekat gerbong kerretaku, dia terus menatap Sahlan tanpa berkedip. Dan istrinya membalas senyumannya dengan senyuman manisnya. Dan beberapa waktu kemudian, ketika Sahlan pulang ke kampung M,  ibunya memperkenalkannya dengan gadis yang ditemuinya di stasiun S. ibuunya langsung menawari Sahlan untuk menikahi gadis itu, tanpa pikir panjang lagi, Sahlan pun mau menikahi gadis itu.
Akhir dari cerpen ini masih membingungkan, karena gadis itu muncul secara tiba-tiba di hadapan lalaki muda itu. Penyebabnya kenapa istri Sahlan dan gadis kecil yang di temui di stasiun benar-benar sama. Sama-sama memilki alis yang tebal dan mata yang cemerlang serta senyuman yang manis. Tapi bedanya ketika gadis itu pertama kali betemu Sahlan dia membalas senyumnya, tapi ketika bertemu lelaki muda gadis itu tak membalas senyumnya. Dari sini bisa diambil kesimpulan, bahwasanya jodoh mau bagaimanapun caranya dan seperti apapun jalannya Tuhan pasti akan menyatukan kembali dengan caran-Nya.    

Kamis, 29 Juni 2017

Puisi

Senyummu..

Tak ada senyum malam ini..
Tak ada senyuman kemaren..
Pun hari-hari sebelumnya
Kesunyian dikeheningan malam..
Mencakar rasa rindu 
yang tiada tara..
Mencakar..
Mencabik-cabik,
       Apakah engkau pun sama?
Wahai dewa cinta,
Aku rindu..

Selasa, 21 Maret 2017

puisi

HUJAN

Kukira hujan mulai tertawa riang
Menertawakan iklim yang tak pasti
Dan disudut kopi manisku.
Seraut wajahmu
Masih terbayang..
Tersenyum..
Mengaduk-aduk rindu lalu,
hingga memudar bersama dengan rintikan hujan yang turun

kajian prosa fiksi

Nama   : Siska Wahyu Sagita   Kelas : 4C NPM    : 16410103 Ulasan Cerpen Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang Cerpen ini...